>Perjalanan Sekuntum Bunga

>mawar merah jambu itu tidak tahu mengapa ia kini berada di tong sampah,

berbagi ruang bersama botol-botol kosong dan kertas-kertas sisa

kemarin siang seorang bocah membelinya, sempat ia lihat wajah pemiliknya itu menjadi seputih kapas, dan dirinya mual oleh getaran tangan si bocah yang lebih parah dari guncangan sebuah angkot bobrok, saat ia melangkah gelisah mencari-cari sesosok gadis yang telah memacu jantungnya berdentum bagai riuh rentak senapan serbu, lalu ia rasakan dirinya terhempas tepat ketika mata pemiliknya dan gadis itu beradu

ia ingat kata-kata kikuk pemiliknya saat ia serahkan dirinya untuk sang gadis, hanya untuk ditepis dengan dingin

semalaman bunga merah jambu itu menggigil di tengah dingin malam, di sebuah ruangan yang berada di puncak gedung itu, sementara paginya dihangatkan oleh kemarahan sang gadis atas kehadirannya – yang tidak dikehendaki

sang gadis – merasa dirinya bagai dinodai di hadapan kawan-kawannya; ia tak suka bunga, dan kiriman bunga yang kembali setelah kemarin ditepisnya, menjadikan dirinya buah bibir untuk beberapa minggu ke depan; paling tidak gadis itu telah berjasa menyediakan dirinya sebagai bahan tertawaan agar kawan-kawannya bisa sejenak melupakan beban kuliah yang makin lama makin tak tertahan, namun harga dirinya tak pernah merelakan dirinya diperolok

seorang perempuan berkerudung telah berbaik hati mengembalikannya ke bocah yang membelinya itu, yang mati-matian menyangkal hak kepemilikannya atas dirinya, dan membiarkan ia terhempas begitu saja di pekarangan itu, terlintas di benaknya barangkali bocah itu kecewa padanya dan tak ingin melihatnya lagi

perempuan berkerudung – tak habis pikir atas kebodohan bocah itu; ia menghela nafas menyaksikan kenaifan si bocah, yang di usia dewasanya bertindak bagai seorang remaja ingusan; mawar yang malang, ia bergumam dalam hati, kenapa kau harus jatuh ke tangan seorang bocah obsesif, alih-alih menjadi hadiah untuk orang beruntung yang baru saja lolos dari siksaan penjara kampus ini

kini, bunga itu mengisahkan perjalanannya kepada botol-botol kosong, plastik-plastik koyak, dan lembaran-lembaran kertas robek, yang hanya bisa tertegun heran; apa gerangan dosa mawar merah jambu cantik itu?

sebuah botol plastik – merasakan tragedi hidupnya bukanlah apa-apa dibandingkan takdir kejam untuk si bunga; setidaknya ia tak terbuang sia-sia, karena ia pernah membasuh dahaga seseorang dengan jus jeruk yang dibawanya

mawar merah jambu – terdiam membilang detik demi detik, merasakan dirinya perlahan mulai kehausan dan mahkotanya mulai meluruh, sebelum ia sendiri menyatu kembali dengan bumi
>Perjalanan Sekuntum Bunga

>Yet Another Love Poem #1

>

kekasihku, ingin aku menantimu
di satu ujung jaringan ini
menyergap karakter demi karakter pesanmu
menghisap mereka bagai gula-gula nan manis

perih pun jadi dengki – mengenal nyeri batinku
menatapmu adalah membiarkan cakar-cakar merobek jantungku

kini, malam datang
aku terperangkap di balik jeruji hujan
dan cahayamu tinggallah secercah sinar bintang di balik mendung

>Yet Another Love Poem #1

>Gelisah Sang Pulpen

>pulpen itu menatapku tajam
ia menggeram
sudah lama tak kuberi ia kata-kata untuk dimangsa

pulpen itu merajuk, parasnya tertekuk
entah berapa masa jemariku tak lagi mencumbuinya

penuh rasa sesal, tanganku melangkah –
merangkul kembali kekasih kecilku itu
“ini sebungkus kata-kata basi
mari kita nikmati bersama untuk menghalau lapar
setidaknya buat satu malam ini”

>Gelisah Sang Pulpen

>Berbagi Luka

>

aku takkan mengajakmu membelai pelangi,

tujuan kita adalah awan mendung berhias petir itu

kita takkan berlayar dibawah lembut hembusan angin

topan yang ‘kan temani kita berenang di antara gelombang


aku hidangkan getir amarahku

dan akan kuhisap racun buih bisamu


karena kita mulai saling melukai, ketika kita berdua terjerat benang merah itu

>Berbagi Luka

>Di Tengah Hujan

>tulangku bergemeretak oleh kobaran dingin malam
sementara, kau membusuk di tengah canda tawa;
lelucon gombalmu meruap dari bergelas-gelas kenarsisan
seperti biasa, kata-katamu selalu berbau anyir,
hanya untukku lah kata-kata itu wangi dengan semerbak kebencian

aku bersorak gembira untuk sebuah derita
karena kesedihan sudah tak sudi berkawan –
tak mampu lagi kuhidangkan air mata untuknya

dan hujan terus memelukku mesra
ah, sejak kapan kata-katamu untukku tak lagi anyir
mungkin, karena kuselipkan sekuntum duri;
di sela percakapan kita, pada beranda profilmu,
atau sekedar di tatapan mataku
sehingga kau merasa perlu membalasnya,
dengan wangi kebencian,

ah, sudahlah
karena, walau hari ini tak ada kunang-kunang
lampu jalanan sudah menyala
dan api kehidupan telah disulut

tulangku bergemeretak oleh kobaran dingin malam
dan hujan terus memelukku mesra
ini saat yang menyenangkan – untuk melangkah pergi
diiringi cemooh rinai hujan
ditemani sinis tatapan lampu jalanan

tulangku bergemeretak oleh kobaran dingin malam
dan hujan tak pernah bosan memelukku mesra
penuh syukur kupanjatkan berjuta umpatan ke Langit
atas indahnya permusuhan kita

>Di Tengah Hujan