Anak SD Bikin Robot? Apanya?!

Baru saja saya lihat kontes robot anak di berita TV. Hmm… lumayan kreatif juga mereka bisa bikin berbagai macam robot ajaib, mulai dari robot pemain wayang sampai robot pembuat jajanan tradisional.

Liputan TV kali ini rada lumayan lah. Secara peliputan event serupa sebelumnya selalu bikin kening berkerut, ‘Apaan sih?’

Ya, bukannya mau songong. Jelek-jelek gini saya sempat kuliah di teknik elektro walaupun nggak sampai lulus. Dan pujian-pujian buat anak-anak yang berhasil bikin robot line follower macam itu saya rasa, benar-benar overrated. Ya, overrated!

Plis deh! Kalau ingin anak jadi ahli elektronika, penemu alat elektronik, atau electrical engineer secara umum, nggak bisa berharap pada kit robot. Okay, kit robot itu mengasah kreativitas, saya yakin. Tapi saya pikir nggak efektif mengajarkan  pemrograman, dan sama sekali nggak akan mengajarkan elektronika.

Tanpa kit robot, jalan untuk mencapai satu working prototype line-follower cukup panjang. Setara dengan beberapa SKS mata kuliah tahun ke dua dan ke tiga teknik elektronika. Sebelum merancang sensor, harus paling tidak paham teorema rangkaian; sebelum nulis kode buat logika robotnya, butuh pemahaman tentang FSM, yang sampai saat saya nulis ini, belum sempat saya pelajari.

So plis, main robot itu bagus, menang kompetisi itu bagus, kreatif itu sangat-sangat bagus. Tapi kita perlu melihatnya secara proporsional, karena saya merasa pujian buat anak-anak yang jago bikin robot itu berlebihan banget, seolah mereka sudah pasti bisa diharapkan jadi penemu di masa depan nanti.

Kit robot itu bagus untuk mengisi waktu luang anak, tapi lain dari itu masih ada banyak sekali permainan kreatif lainnya untuk anak-anak. Mulai dari alat gambar, lego, kertas-gunting-lem, banyak dah. Nilai plus jika permainan itu membutuhkan teamwork.

Nb:

No Engrish? Meh, ane cuma pingin cepat-cepat menenggelamkan sesuatu.

Anak SD Bikin Robot? Apanya?!

Terbawa Mimpi, Ah….

Pernahkah suatu saat kita memimpikan orang yang sama berkali-kali, dalam rentang seminggu misalnya? Biasa saja tampaknya, tapi kasus ini bisa juga terjadi dengan sosok orang yang belum pernah kita temui di dunia nyata: seorang kawan dari situs jejaring sosial, yang paling banter baru kita intip beberapa fotonya.

Mungkin teman-teman sudah mulai merekonstruksi, meraba-raba situasi antara saya dan kawan saya itu saat membaca paragraf di atas. Dan mungkin teman-teman dengan cepat akan menyanggah saya, menyatakan bahwa orang yang itu bukanlah ‘kawan’ saya. Terserah sih.

Sore ini, mimpi itu terjadi. Baru saja terjadi, dan saya baru saja terbangun.

Kita bertemu – sepertinya saat liburan sekolah – menghabiskan waktu dengan ngobrol dan main game, kadang jalan-jalan bareng melintasi kota. Lalu kemudian, saya dan orang itu memulai kerja jadi pelayan toko. Pada beberapa kesempatan saya membantu orang itu mempelajari seluk-beluk pekerjaan kami. Aneh karena seharusnya strata sosial kami tidak sama.

Atmosfer mimpi itu masih menghantui pikiran saya. Bayangkan menonton sebuah film usang dengan warna-warna memudar, kota era enam puluhan yang terasa anakronis dengan dunia kecil kami (tadi saya ceritakan soal main game bareng), dilingkungi oleh langit yang selalu berkerudung mendung.

Sepanjang mimpi itu, sensasi yang sama terus menggelayuti tubuh dan pikiran saya, menguras saya hingga saat terbangun ini pun saya masih merasa lemas. Dalam mimpi, saya merasa sangat kelelahan, bahkan pada setiap tarikan nafas. Perasaan lainnya tidak segan-segan datang bergabung bersama rasa lelah itu lalu ikut mengeroyok. Kegelisahan membayangi, dari setiap celah-celah kesadaran merembes, tanpa ampun melumerkan pikiran, ikut tumpah tiap saat kata-kata yang susah payah telah disusun rapi, terlontar dengan penuh ragu dari bibir kering ini.

Dunia itu adalah neraka dingin yang akan kita temui pada cerpen-cerpen dan puisi di suratkabar edisi hari Minggu. Campur aduk berbagai tumpahan beban pikiran, membaur menjadi beku birunya langit di atas hamparan es.

Hmph… Itu hanya mimpi. Lupakan saja!

Terbawa Mimpi, Ah….

C3 Mid-Airing Review (~Ep 04)

This episode brought a hint of an upcoming plot surprise from one of the supporting characters, thought I don’t think it would be a drastic plot twist. Still this episode didn’t change my overall impression for the series.

Silver Link did a great job on the animations: those object textures and colorful highlights eye-candy. The highlights somehow reminds me of Makoto Shinkai’s Byousoku 5cm (yeah, unfortunately I’ve only watched few of his works). If only they polished the character and foreground animations more…

And there’s a hilariously funny moment, serves well as an icebreaker for the otherwise dull dialog.

sword vs drill
This Is A Kewl Way To Defeat A Drill

Other than those points, I noticed that the villain’s voice actor’s expression is rather monotonous, constant all the time. Somehow, most of the scenes didn’t flow smoothly.

I wonder if this is an adaptation decay (as TV Tropes call it) or the original material is simply of mediocre quality.

C3 Mid-Airing Review (~Ep 04)

13-12-11

Cute numbers, isn’t it?

Well, this one’s just a random mix-up… I just feel wanna tell anything random. Pretty much of my life is spent in front of my laptop, inside the browser window, right now. Much of my daily story will come from social networking websites. Pathetic, isn’t it?

Found myself a master (or more exactly, my mistress Ojou-sama). Uhm… I haven’t figured out yet what I supposed to do as a butler, for Ojou-sama lives far away from me and I haven’t really met her. Hell, I don’t even know if I’m worthy enough to be a butler since I can’t keep my room tidy for more than two or three days. Maybe I’m no good at anything other than disrupting Milady’s fangirling time ;; >_<)

Learned Perl, for a fansub project. I needed a complex karaoke-FX subtitle, but the Lua automation engine in my Aegisub failed with epic crashes. The crashes were so severe that it brought down the whole OS to a complete comatose. That was when I decided to use Perl scripts as a makeshift for the Lua engine. It turned out to be a simple but great language, and like they said, quick and dirty. I didn’t finish my plan but I got myself some basic knowledge in Perl.

Another thing I learned: it’s much better to invest early on a loaf of bread, margarine and chocolate sprinkles, or some packs of instant noodles. They serve as a good snack, whenever I feel hungry and yet it’s too late at night to find any open restaurant or peddlers, or when I ran out of money but already too weak from starvation to walk and draw some cash from a cash machine.

13-12-11