Terbawa Mimpi, Ah….

Pernahkah suatu saat kita memimpikan orang yang sama berkali-kali, dalam rentang seminggu misalnya? Biasa saja tampaknya, tapi kasus ini bisa juga terjadi dengan sosok orang yang belum pernah kita temui di dunia nyata: seorang kawan dari situs jejaring sosial, yang paling banter baru kita intip beberapa fotonya.

Mungkin teman-teman sudah mulai merekonstruksi, meraba-raba situasi antara saya dan kawan saya itu saat membaca paragraf di atas. Dan mungkin teman-teman dengan cepat akan menyanggah saya, menyatakan bahwa orang yang itu bukanlah ‘kawan’ saya. Terserah sih.

Sore ini, mimpi itu terjadi. Baru saja terjadi, dan saya baru saja terbangun.

Kita bertemu – sepertinya saat liburan sekolah – menghabiskan waktu dengan ngobrol dan main game, kadang jalan-jalan bareng melintasi kota. Lalu kemudian, saya dan orang itu memulai kerja jadi pelayan toko. Pada beberapa kesempatan saya membantu orang itu mempelajari seluk-beluk pekerjaan kami. Aneh karena seharusnya strata sosial kami tidak sama.

Atmosfer mimpi itu masih menghantui pikiran saya. Bayangkan menonton sebuah film usang dengan warna-warna memudar, kota era enam puluhan yang terasa anakronis dengan dunia kecil kami (tadi saya ceritakan soal main game bareng), dilingkungi oleh langit yang selalu berkerudung mendung.

Sepanjang mimpi itu, sensasi yang sama terus menggelayuti tubuh dan pikiran saya, menguras saya hingga saat terbangun ini pun saya masih merasa lemas. Dalam mimpi, saya merasa sangat kelelahan, bahkan pada setiap tarikan nafas. Perasaan lainnya tidak segan-segan datang bergabung bersama rasa lelah itu lalu ikut mengeroyok. Kegelisahan membayangi, dari setiap celah-celah kesadaran merembes, tanpa ampun melumerkan pikiran, ikut tumpah tiap saat kata-kata yang susah payah telah disusun rapi, terlontar dengan penuh ragu dari bibir kering ini.

Dunia itu adalah neraka dingin yang akan kita temui pada cerpen-cerpen dan puisi di suratkabar edisi hari Minggu. Campur aduk berbagai tumpahan beban pikiran, membaur menjadi beku birunya langit di atas hamparan es.

Hmph… Itu hanya mimpi. Lupakan saja!

Advertisements
Terbawa Mimpi, Ah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s