What You See Is (Not Always) What You Get

Saya akan mengutip sebuah anekdot dari 9gag tentang seseorang  yang men-summon jin lampu, seperti ini kira-kira

Genie: Right, I’ve had a long hard day, so here’s the deal. I will grant you ONE wish. What’ll it be?

Wizard: Well, I’ve always wanted to go to Hawaii, but I’ve got a fear of flying. … I wish there was a bridge to Hawaii.

Genie: Are you kidding? That’s ridiculous! Think how much concrete you’ll need to reach the bottom of the ocean! Think of another one.

Wizard: Hmm… well I guess there is one thing I’ve always wanted to know. I want to be able to understand women. I wish to know what makes a woman happy!

Genie: ………….. So, about the bridge…

Tentu kita pernah bertemu seseorang yang sangat ramah, segera akrab dengan kita walaupun baru pertama kali bertemu. Tanyakan satu hal kecil, lalu pembicaraan mengalir begitu saja bagaikan kereta listrik melaju segera setelah meninggalkan emplasemen stasiun. Orang itu begitu hangat, seolah ia tidak menempatkan tembok penghalang antara dirinya dan orang lain.

Setelah pertemuan pertama itu semua terlihat lancar. Kontak via internet mulai terjalin, dan, dengan mudahnya orang itu memberikan nomer telpon selulernya, sesuatu yang kita seringkali harus berpikir dua kali sebelum memintanya kepada lawan jenis. Orang itu tidak merasa enggan merespon pesan, berbicara berbagai hal seolah ia adalah kawan dekat. Seolah.

Tetapi, di luar dugaan, ternyata ia punya batas kenyamanan yang ketat. Keramahan yang ditunjukkannya hanyalah kewajaran semata baginya, sementara pada saat yang sama ia masih menjaga jarak kecuali dengan sedikit teman dekatnya.

Sampai di sini, masih cukup wajar. Tiap orang punya caranya masing-masing untuk membuka dirinya dengan lingkungan.

Masalah muncul jika demi menjaga keramahannya itu, ia sampai mengatakan hal yang berlawanan dengan apa yang sebenarnya ia rasakan kepada orang yang membuatnya tidak nyaman. Ia tidak menunjukkan penolakan atas suatu ajakan, namun selalu punya alasan untuk mengulur-ulur waktunya. Pada kasus ekstrim, ia bisa saja menerima ajakan itu, namun pada saatnya ia akan menempatkan orang yang tidak disukainya itu dalam situasi yang sangat menyiksa, dan mungkin, mempermalukannya.

Saya sendiri tidak menganggap ia sebagai orang jahat. Mungkin itu adalah teguran setelah sentilan-sentilan tersirat yang diberikannya tidak digubris. Bagaimanapun juga, orang macam itu membuat saya takut. Entah apa yang bisa ia lakukan kalau kita sampai membuatnya benar-benar marah.

Not just an ordinary witch, indeed.

Advertisements
What You See Is (Not Always) What You Get

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s