Fenomena Makam Berdarah

Sore ini, saat sedang makan di warung, kebetulan di TV ditayangkan acara yang mengangkat suatu fenomena supernatural. Acara yang biasanya menampilkan gosip selebritis itu (dengan tanda seru pada judulnya) kali ini menampilkan kejadian ganjil di suatu pemakaman di Jakarta – sebuah makam yang mengeluarkan cairan mirip darah dan berbau amis. Tentu saja selayaknya acara gosip selebritis, beberapa selebritis – yang mungkin dipilih secara acak saat kebetulan meliput event lain – turut dimintai pendapat.

Singkat cerita, ada sebuah makam orang yang baru beberapa bulan lalu meninggal secara tiba-tiba mengeluarkan cairan mirip darah, berbau amis. Tak lama kemudian tempat itu dikerubuti orang yang ingin menyaksikan langsung fenomena tersebut, sampai makam harus ditutup dari masyarakat umum. Entah memang kebanyakan orang kita supernatural freak atau sekedar kurang kerjaan, mereka ngotot melihat dari balik tembok tinggi pemakaman dengan memanjat tangga. Meskipun saat ini makam yang dimaksud sudah tampak normal, hanya sedikit terlihat becek, karena terlalu banyak pengunjung menginjak-injak makam.

Dengan logika sh*tnetron religius yang kita anut, cerita tentang kehidupan almarhum yang dikuburkan di makam pun menyebar. Konon ia berprofesi sebagai rentenir. Hmm… rada aneh, apa hubungannya rentenir dengan makam berdarah? Bukannya lebih masuk akal kalau kejadian makam berdarah terjadi jika almarhum semasa hidup pendonor darah aktif PMI? Tunggu, saya lupa… Nalar orang kita memang rada unik jika dibandingkan dengan nalar manusia pada umumnya, kalaupun itu ada. Hipotesis kedua menyatakan bahwa ada tumpahan minyak di makam, tapi tentu saja yang satu ini lekas tenggelam di tengah maraknya gunjingan tentang kehidupan pribadi almarhum.

Menerawang Dengan Nurani

Yang bikin saya heran bukan makamnya, tapi exposure media atas kejadian ini. Stasiun televisi swasta nasional, dengan jutaan penonton. Acara pada slot prime time. Liputan kejadian lokal yang entah apa signifikansinya untuk negeri ini – selain makin menunjukkan betapa kalutnya kehidupan di sini sehingga orang begitu tertarik dengan kejadian macam itu.

Liputan kejadian itu menyertakan rekaman video lokasi kejadian, petunjuk jelas lokasi kejadian, serta nama almarhum dan beberapa hal tentang kehidupan pribadi almarhum. Orang yang semasa hidupnya hanya orang biasa tiba-tiba menjadi terkenal di TV. Sayangnya ia terkenal setelah meninggal, untuk sesuatu yang tidak menyenangkan.

Ini membuat saya bertanya-tanya, sempatkah perencana program tersebut sejenak menempatkan diri pada posisi keluarga almarhum? Coba renungkan sejenak, masih hidup atau sudah meninggal, kita tidak ingin aib kita dan orang terdekat kita tersebar. Kita berusaha sekuat tenaga menutupinya. Meskipun kadang kita memang tidak setuju dengan tindakan keluarga yang menjadi aib, tetap saja kita tidak mau menanggung rusaknya nama baik akibat tindakan keluarga kita tersebut.

Okelah, memang sudah jadi fakta, acara macam itu banyak mengais aib para selebritis untuk menghibur penonton. But this one brings the matters to a new level. Hanya orang biasa dengan kejadian aneh, lalu suatu tayangan TV meliputnya, dibumbui dengan berbagai hipotesis dari gunjingan khalayak, tak lupa dihias garnish dari wawancara dengan beberapa selebriti random. Sungguh ulet dan jeli.

Lalu kesimpulannya? Seperti perkataan dari seorang indigo yang menjadi narasumber, biarlah masalah ini menjadi rahasia umum saja, tidak perlu dibesar-besarkan.

Kematian itu sendiri sudah menjadi hal yang menyedihkan. Tidak perlu kita menambah beban almarhum dan keluarga dengan menyebarkan aib. Biarkanlah keluarga almarhum melanjutkan hidup dan melepas kepergian almarhum dengan tabah, dan biarlah almarhum beristirahat dengan tenang.

Pada akhirnya, penilaian atas baik buruknya seseorang adalah hak Sang Pencipta. Hanya sedikit saja yang kita tahu, sedangkan Ia adalah Dzat yang Maha Mengetahui.

Fenomena Makam Berdarah

Tasogare Otome x Amnesia ED Theme – CHOIR JAIL ~TV Size~ (Indonesian Version)

Okay, dengan skill bahasa pas-pasan nekat bikin lagi.

Ratapan, kesedihan, melankoli dan derita. To sweet to miss this one. 

Syair dalam kanji diambil dari laman ini. Makasih buat yang udah posting ^^. Seperti biasa saran, kritik dan terutama koreksi atas terjemahan sangat saya tunggu.

Dipersembahkan untuk Kanoe Yuuko, semoga garapan saya ini nggak bikin kamu makin sedih 😦

Berkobarlah diriku
berkobar mendambakan pelukmu tentu bukanlah satu dosa
Singkirkan gelap hai api, CHOIR JAIL

Ratapan ini tak teruntai jadi nada
dalam mimpi kumenjerit, adakah jawaban ‘tuk tanya ini?
Diam menunduk diriku tak menyadari
di balik sepasang matamu terbayang hari esok

Andai keajaiban terjadi hari ini
kuhapus lelehan air mata
hadapi semua dan melangkah

Bukalah diri ini
segala lara ini menutupi pandanganku
Berkobarlah diriku
hingga di akhir nanti karena gairah ini bukanlah dosa
Singkirkan gelap hai api, CHOIR JAIL

Yuuko

Tasogare Otome x Amnesia ED Theme – CHOIR JAIL ~TV Size~ (Indonesian Version)

Nggak Gentle Sih…

Okay, tindakan yang tepat saat seorang perempuan menjauhi seorang laki-laki yang memendam rasa adalah membiarkannya menjauh, memberi ia waktu. Mungkin nggak akan bisa dekat lagi, tapi sudahlah, setidaknya masalah tidak jadi makin runyam.

Hanya saja saat emosi memuncak suara akal sehat sering terbungkam.

Flashback

Diawali dengan diskusi  mengenai gencarnya invasi hallyu yang sampai merambah event budaya Jepang, saya jadi sering ngobrol dengan seorang kenalan di Facebook. Sampai bertukar nomer hape dan balas-balasan SMS. Sampai saya bisa mengajak (baca: memaksa) dia pasang Skype dan voice call lumayan lama.

Suatu saat akhirnya ia sadar saya ada rasa ke dia setelah beberapa lama memperhatikan update status dan tweet saya. Ia langsung menghindari saya, dengan segera. Secara drastis menghindari komunikasi, bersikap dingin saat saya ngajakin ngobrol, seringkali malah tidak mengacuhkan saya.

My Arguments

Dari sisi saya sendiri, bohong kalau saya bilang nggak ada rasa apa-apa terhadap dirinya. Orang saya nge-add dia karena tertarik dengan foto profil dia yang unyu-unyu imut gitu. Saat dia mau ngasih nomer hape, berbalas sms dan voice call, hati saya sebagai foreveralone guy seolah terbang tinggi ke awang-awang.

Tapi, saya yakin bahwa saya nggak tergila-gila dengannya. Saya melihat dirinya sebagai ‘lumayan deh, daripada single terus’. Saya nggak berniat confess dalam waktu dekat, dan kalau ada orang lain yang lebih menarik tanpa pikir panjang saya akan langsung berpaling.

Lain itu dia sudah menyatakan dengan jelas bahwa dia nggak mau pacaran dulu. Perasaannya masih belum pulih sejak dia putus dengan pacar terakhirnya yang sebenarnya nggak terlalu suka dia. Sekarang pun, tampaknya dia punya orang lain yang dia suka.

Saya hanya nggak rela ditinggal pergi begitu saja hanya karena saya menyimpan suatu special feeling. Hell, ada yang hilang kan, kalau orang yang biasanya menemanimu ngobrol malam-malam, memenuhi inbox hape (sampai perlu di-flush tiap hari) dengan sms darinya, tiba-tiba memalingkan muka dan tidak mau berinteraksi lagi?

Kenalan di dunia maya tiba-tiba menjauh itu hal biasa. Teman akrab IRL pun sering menjauh seiring berjalannya waktu. Tapi selama ini, orang yang sudah sangat dekat nggak menjauh secara drastis. Mereka melakukan transisi dengan mulus, perlahan mundur, lalu kedua pihak bisa saling mengerti bahwa masing-masing punya dunianya sendiri dan tahu bahwa sudah saatnya bagi mereka untuk saling memberi jarak. Mereka pun masih bisa dihubungi sesekali dan kita tahu kapan saat tepat untuk kembali berbicara sejenak atau membiarkan mereka kembali di dunianya.

That Raegful Moment

Tanggal 8 April kemarin saya datang ke event Sekazo di Taman Budaya Raden Saleh. Selain sekedar main, saya juga sekalian mau ketemu dengan seorang kenalan.

Orang itu juga datang.

Awalnya saya masih tenang, dia berkeliaran dan saya tetap cuek. 15 menit, setengah jam…. Perasaan jengkel muncul kembali. Serasa sedang fap lalu entah kenapa tidak bisa dilanjutkan, ada yang harus ditumpahkan segera.

どうしても、終わらなくちゃ。

Colek orangnya, dia menoleh, lalu berpaling lagi. Nggak ada reaksi lain.

Orangnya duduk bareng teman-teman sekomunitas. Di tangan, ada setengah gelas es teh manis. Something’s got to be spilled, literally.

Saya dekati mereka, lalu dengan sengaja saya tumpahkan es teh itu disampingnya supaya celananya basah. Dia terlihat marah, tapi menjauh begitu saja sambil bersungut-sungut.

Doh…. sundome…. I desperately seek a climax.

Serangan ke dua, pakai takoyaki saos. It’s not very effective, nggak bikin kotor dan orangnya masih cuek.

Serangan ke tiga, pakai sepertiga gelas lelehan air es. Tumpahkan ke punggungnya… Don’t get me wrong, OK? Saya nggak berniat melakukan sekuhara.

Successfully flipped her switch. Dia mendekat, mulai membentak. Saya beri isyarat tangan untuk segera maju.

Satu pukulan, dua pukulan, pukulan demi pukulan mendarat di kepala saya. Secara refleks saya sempat beberapa kali memalingkan muka, yah… padahal harusnya sedikitpun saya nggak boleh berpaling. Oke dah, setidaknya saya nggak menangkis pukulannya apalagi balas memukul.

Tak lama kemudian orang-orang datang melerai. Dua orang dari komunitas dia langsung menyidang saya di di tempat. Satu orang dengan tegas mengatakan bahwa saya harus menghargai perempuan, harus rela kalau ditolak dan menerima keputusannya.Yah, ini bukan soal ditolak atau putus cinta. Tapi benar kata-katanya, orang itu menjauh karena salah saya sendiri, saya harus introspeksi. Ia kemudian menjelaskan tentang posisi penting dirinya di komunitas, dan dia nggak mau orang itu terganggu kinerjanya karena perbuatan saya.

Orang lainnya  yang lebih kalem menjelaskan tentang bedanya berantem sesama lelaki dan berantem dengan perempuan. Singkatnya, berantem dengan perempuan hanya akan memperparah masalah karena perempuan sulit memaafkan. Lalu orang lainnya lagi menasehati saya tentang cara menyelesaikan masalah dengan perempuan, intinya, bukan kita yang minta dituruti, tapi turutilah keinginan seorang perempuan.

Mereka semua benar. Saya berterima kasih atas semua masukan mereka.

Dilihat dari mana pun, tindakan saya nggak bisa dibenarkan. Saya belajar bahwa dalam kondisi apapun, seorang laki-laki tidak boleh menggunakan cara kekerasan untuk menyelesaikan masalah dengan perempuan. Nggak jantan, dan tidak pada tempatnya. Bukan hanya karena cara berpikir dan perasaan perempuan berbeda dengan laki-laki, tetapi juga kekerasan terhadap perempuan adalah sesuatu yang tidak bisa diterima di masyarakat beradab.

Namun, dalam pikiran saya yang sudah miring ini, entah kenapa saya tidak merasa sedih. Semua yang saya lakukan tadi adalah kezaliman, tindakan tidak dewasa. Hanya saja, dengan melakukannya, beban di hati ini terangkat. Saya merasakan lega. Semuanya telah berakhir dan tidak perlu lagi dipikirkan.

Semoga kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi. Mungkin sementara ini saya perlu menjaga jarak dengan lawan jenis, kecuali mereka yang memang dekat karena ada keperluan, misalnya teman satu organisasi yang sering bekerja dengan saya. Di luar itu, saya belum siap menjalin hubungan dengan seorang perempuan.

Nggak Gentle Sih…

THE iDOLM@STER – arcadia – Indonesian Lyrics Translation

Terjemahan syair ini dulunya saya persiapkan untuk kontes menyanyi di satu forum. Tetapi, karena lagunya jauh di luar kemampuan vokal saya yang pas-pasan dan bahasanya kerasa terlalu lebay to the max (well, can’t really help it secara saya tersentuh banget dengan gaya nyanyi Kisaragi Chihaya), saya nggak jadi submit lagu ini. Setidaknya, terjemahan bisa saya selesaikan, dengan hasil yang sangat literal, pokoknya jauh nggak level deh dibandingin terjemahan lagu OP/ED anime bikinan fansub luar.

Syair aslinya ada di Anime Lyrics dot Com, barangkali ada yang ingin membantu memperbaiki kerjaan ini.

So, here it goes… Silahkan ngakak sepuasnya sambil membayangkan syairnya dinyanyikan.

Angin berhembus di ufuk langit
cahaya terang sinari bumi
Manusia lelap didekap mimpi
masyhurlah kisah ini dikenang
arcadia

Lembut angin membelai angkasa nun jauh
terus terbang bebas ikuti bisikan hatiku
Seberapapun kecilnya diriku hari ini
pastilah suatu saat ku kan jadi badai

Hai manusia yang menggenggam harapan
rentangkan sayapmu hentak kakimu
jangan ragu lagi

Terbang
melebihi ganasnya ombak
melampaui tingginya gunung
Kini
aku melayang bagai angin
hingga ke ujung mimpi
Hyu ru ra ri ra
Terus tegarkan dirimu
Hyu ru ra ri ra
‘tuk gapai arcadia

Saat mentari terbangun dari tidurnya
meski terkoyak bulan tetap terbit dan bersinar
Begitulah adanya jika diriku terluka
kuyakin esok hari masih kumiliki

Hai kisah yang belum ingin kuakhiri
kan kutembus gelap ke ujung dunia
kemanapun juga

Lesat
melebihi kobarnya api
melebihi runcingnya repih es
Walau
diri ini belum berpijar
hanya dengan jiwaku
Ki ra ri re ra
‘Kan kusinari semesta
Ki ra ri re ra
sinarkan arcadia

Hai manusia yang menggenggam harapan
rentangkan sayapmu hentak kakimu
jangan ragu lagi

Terbang
melebihi ganasnya ombak
melampaui tingginya gunung
Kini
aku melayang bagai angin
hingga ke ujung mimpi
Hyu ru ra ri ra
Terus tegarkan dirimu
Hyu ru ra ri ra
‘tuk gapai arcadia

Changelog:

  • 2012.04.05: bait ke dua, ‘kamu’ diganti dengan ‘aku’, crosscheck dari animelyrics.com
THE iDOLM@STER – arcadia – Indonesian Lyrics Translation