Nggak Gentle Sih…

Okay, tindakan yang tepat saat seorang perempuan menjauhi seorang laki-laki yang memendam rasa adalah membiarkannya menjauh, memberi ia waktu. Mungkin nggak akan bisa dekat lagi, tapi sudahlah, setidaknya masalah tidak jadi makin runyam.

Hanya saja saat emosi memuncak suara akal sehat sering terbungkam.

Flashback

Diawali dengan diskusi  mengenai gencarnya invasi hallyu yang sampai merambah event budaya Jepang, saya jadi sering ngobrol dengan seorang kenalan di Facebook. Sampai bertukar nomer hape dan balas-balasan SMS. Sampai saya bisa mengajak (baca: memaksa) dia pasang Skype dan voice call lumayan lama.

Suatu saat akhirnya ia sadar saya ada rasa ke dia setelah beberapa lama memperhatikan update status dan tweet saya. Ia langsung menghindari saya, dengan segera. Secara drastis menghindari komunikasi, bersikap dingin saat saya ngajakin ngobrol, seringkali malah tidak mengacuhkan saya.

My Arguments

Dari sisi saya sendiri, bohong kalau saya bilang nggak ada rasa apa-apa terhadap dirinya. Orang saya nge-add dia karena tertarik dengan foto profil dia yang unyu-unyu imut gitu. Saat dia mau ngasih nomer hape, berbalas sms dan voice call, hati saya sebagai foreveralone guy seolah terbang tinggi ke awang-awang.

Tapi, saya yakin bahwa saya nggak tergila-gila dengannya. Saya melihat dirinya sebagai ‘lumayan deh, daripada single terus’. Saya nggak berniat confess dalam waktu dekat, dan kalau ada orang lain yang lebih menarik tanpa pikir panjang saya akan langsung berpaling.

Lain itu dia sudah menyatakan dengan jelas bahwa dia nggak mau pacaran dulu. Perasaannya masih belum pulih sejak dia putus dengan pacar terakhirnya yang sebenarnya nggak terlalu suka dia. Sekarang pun, tampaknya dia punya orang lain yang dia suka.

Saya hanya nggak rela ditinggal pergi begitu saja hanya karena saya menyimpan suatu special feeling. Hell, ada yang hilang kan, kalau orang yang biasanya menemanimu ngobrol malam-malam, memenuhi inbox hape (sampai perlu di-flush tiap hari) dengan sms darinya, tiba-tiba memalingkan muka dan tidak mau berinteraksi lagi?

Kenalan di dunia maya tiba-tiba menjauh itu hal biasa. Teman akrab IRL pun sering menjauh seiring berjalannya waktu. Tapi selama ini, orang yang sudah sangat dekat nggak menjauh secara drastis. Mereka melakukan transisi dengan mulus, perlahan mundur, lalu kedua pihak bisa saling mengerti bahwa masing-masing punya dunianya sendiri dan tahu bahwa sudah saatnya bagi mereka untuk saling memberi jarak. Mereka pun masih bisa dihubungi sesekali dan kita tahu kapan saat tepat untuk kembali berbicara sejenak atau membiarkan mereka kembali di dunianya.

That Raegful Moment

Tanggal 8 April kemarin saya datang ke event Sekazo di Taman Budaya Raden Saleh. Selain sekedar main, saya juga sekalian mau ketemu dengan seorang kenalan.

Orang itu juga datang.

Awalnya saya masih tenang, dia berkeliaran dan saya tetap cuek. 15 menit, setengah jam…. Perasaan jengkel muncul kembali. Serasa sedang fap lalu entah kenapa tidak bisa dilanjutkan, ada yang harus ditumpahkan segera.

どうしても、終わらなくちゃ。

Colek orangnya, dia menoleh, lalu berpaling lagi. Nggak ada reaksi lain.

Orangnya duduk bareng teman-teman sekomunitas. Di tangan, ada setengah gelas es teh manis. Something’s got to be spilled, literally.

Saya dekati mereka, lalu dengan sengaja saya tumpahkan es teh itu disampingnya supaya celananya basah. Dia terlihat marah, tapi menjauh begitu saja sambil bersungut-sungut.

Doh…. sundome…. I desperately seek a climax.

Serangan ke dua, pakai takoyaki saos. It’s not very effective, nggak bikin kotor dan orangnya masih cuek.

Serangan ke tiga, pakai sepertiga gelas lelehan air es. Tumpahkan ke punggungnya… Don’t get me wrong, OK? Saya nggak berniat melakukan sekuhara.

Successfully flipped her switch. Dia mendekat, mulai membentak. Saya beri isyarat tangan untuk segera maju.

Satu pukulan, dua pukulan, pukulan demi pukulan mendarat di kepala saya. Secara refleks saya sempat beberapa kali memalingkan muka, yah… padahal harusnya sedikitpun saya nggak boleh berpaling. Oke dah, setidaknya saya nggak menangkis pukulannya apalagi balas memukul.

Tak lama kemudian orang-orang datang melerai. Dua orang dari komunitas dia langsung menyidang saya di di tempat. Satu orang dengan tegas mengatakan bahwa saya harus menghargai perempuan, harus rela kalau ditolak dan menerima keputusannya.Yah, ini bukan soal ditolak atau putus cinta. Tapi benar kata-katanya, orang itu menjauh karena salah saya sendiri, saya harus introspeksi. Ia kemudian menjelaskan tentang posisi penting dirinya di komunitas, dan dia nggak mau orang itu terganggu kinerjanya karena perbuatan saya.

Orang lainnya  yang lebih kalem menjelaskan tentang bedanya berantem sesama lelaki dan berantem dengan perempuan. Singkatnya, berantem dengan perempuan hanya akan memperparah masalah karena perempuan sulit memaafkan. Lalu orang lainnya lagi menasehati saya tentang cara menyelesaikan masalah dengan perempuan, intinya, bukan kita yang minta dituruti, tapi turutilah keinginan seorang perempuan.

Mereka semua benar. Saya berterima kasih atas semua masukan mereka.

Dilihat dari mana pun, tindakan saya nggak bisa dibenarkan. Saya belajar bahwa dalam kondisi apapun, seorang laki-laki tidak boleh menggunakan cara kekerasan untuk menyelesaikan masalah dengan perempuan. Nggak jantan, dan tidak pada tempatnya. Bukan hanya karena cara berpikir dan perasaan perempuan berbeda dengan laki-laki, tetapi juga kekerasan terhadap perempuan adalah sesuatu yang tidak bisa diterima di masyarakat beradab.

Namun, dalam pikiran saya yang sudah miring ini, entah kenapa saya tidak merasa sedih. Semua yang saya lakukan tadi adalah kezaliman, tindakan tidak dewasa. Hanya saja, dengan melakukannya, beban di hati ini terangkat. Saya merasakan lega. Semuanya telah berakhir dan tidak perlu lagi dipikirkan.

Semoga kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi. Mungkin sementara ini saya perlu menjaga jarak dengan lawan jenis, kecuali mereka yang memang dekat karena ada keperluan, misalnya teman satu organisasi yang sering bekerja dengan saya. Di luar itu, saya belum siap menjalin hubungan dengan seorang perempuan.

Advertisements
Nggak Gentle Sih…

4 thoughts on “Nggak Gentle Sih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s