TSO: Midori-chan

Di kamar ada empat barang yang selalu setia menemani saya melewatkan hari-hari: Alice-tan, si laptop; Ringo-chan, dayangnya Alice-tan, tugasnya ngipasin alice-tan supaya nggak overheat; dan terakhir, Midori-chan, kipas stand gede 40cm yang bertugas membuat kamar terasa sejuk sekaligus mengusir nyamuk-nyamuk. Masih ada beberapa penghuni lain, yang masih ada maupun yang sudah pergi, tapi mereka tidak terlibat dalam cerita ini.

Ceritanya, sekitar beberapa bulan lalu, Midori-chan mulai bermasalah. Setelah dimatikan dan dingin, dia agak macet. Awalnya muter lambat banget, perlahan-lahan menambah kecepatan, baru setelah satu menit bisa berputar lancar seperti seharusnya. Makin lama penyakitnya ini makin parah… Sampai harus tunggu sepuluh menit sebelum muter di kecepatan normal. Dua hari lalu, Midori-chan nggak muter samasekali. Cuma jadi panas. Ditunggu sejam, nggak muter. Cabut, dicoba lagi, nggak muter. Kali ini malah panas dan dengungan listriknya nggak kerasa. Hasil diagnosis multitester menunjukkan bahwa perkabelannya putus entah di mana, mungkin di kabel stop kontak, atau di kumparan dalamnya. Kemungkinan kabelnya terbakar karena panas tinggi yang dihasilkan karena rotornya tidak bisa berputar. Statusnya sekarang TSO (tidak siap operasi), daripada menuh-menuhin kamar dan jadi sarang debu, benda ini perlu segera disingkirkan sementara.

Membereskan Midori-chan butuh tekad baja. Kipas angin di udara Semarang ini seperti jadi magnet debu: seminggu saja sudah berdebu. Apalagi saya termasuk malas bersih-bersih, sekitar tiga bulan dibiarkan dan kipas itu penuh berlapis debu. Rencananya Midori-chan akan diperbaiki sendiri karena walaupun garansi motornya masih ada, casing-nya pernah saya bongkar, selain itu saya emang suka utak-atik seperti ini. Tetapi setelah melihat kondisi Midori-chan yang mengalami pendarahan (olinya ngalir keluar dari celah-celah casing), saya putuskan untuk membawanya ke service center terdekat nanti. Sementara ini Midori-chan dimasukkan lagi ke kardusnya dan diletakkan di luar kamar.

Sementara itu, menjalani hidup di Semarang tanpa kipas angin sangatlah berat. Baru sekitar satu jam dan saya sudah nggak tahan, badan keringetan, gatal-gatal gak jelas dan nyamuk berdatangan. Untunglah, tetangga kosan nawarin kipas angin meja kecil warna pink yang kondisinya masih sangat bagus, warisan penghuni yang telah berlalu (maksudnya, sudah pindah dari kosan :p ). Casing belakangnya sudah hilang tapi gir swivel dan motornya masih dalam keadaan bagus. Setelah dibersihkan sedikit dan dilumasi pakai mentega hampir kadaluwarsa, benda itu bisa bertugas dengan sempurna. Yosh, selamat datang dan selamat bertugas, Sanae-chan 🙂

Sekarang tampaknya saya bakal pakai kipas kecil ini saja. Anginnya sudah cukup sejuk, lebih ringkas dan gampang dipindah sesuai kebutuhan. Selain itu, kipas stand gede ukuran 40cm rada repot perawatannya. Ukurannya yang besar bikin bersih-bersih di sekitar kipas jadi susah. Sementara ini Midori-chan diistirahatkan dulu di kardus. Entah nanti akan direparasi, dirucat, atau di-rebuild jadi permanent magnet alternator, waktu yang akan menjawabnya.

Advertisements
TSO: Midori-chan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s