Tahun Baru Dari Perspektif Seorang Awam

Pada hari terakhir 2012 ini seorang kontak FB berbagi gambar foto artikel sebuah tabloid Islam tentang tahun baru. Artikel itu menuduh bahwa perayaan tahun baru adalah dusta dan kepalsuan jika ditinjau dari segi ilmiah, dan menghimbau agar umat Islam tidak mengikutinya. Walaupun saya setuju bahwa hura-hura dengan menghamburkan uang di malam tahun baru adalah kesia-siaan tanpa manfaat, saya lumayan geli, geleng-geleng kepala dan facepalm saat membaca tulisan ini.

foto artikel tahun baru palsu
Klik untuk melihat ukuran penuh

Menurut hemat saya penulis artikel telah berbeda persepsi tentang bagaimana seharusnya penanggalan diterapkan. Pertama, berdasarkan perhitungan astronomi siklus satu tahun ini tidak persis 365 hari tetapi sekitar 365.25 hari. Angka tepatnya berbeda-beda tergantung bagaimana ‘tahun’ itu sendiri didefinisikan: kalender masehi didefinisikan berdasarkan waktu sideris dengan panjang satu tahunnya sebesar 365.2564. Nah, kebayang ‘kan, angkanya bukan angka cantik. Lalu bagaimana para ahli almanak menyikapi kenyataan ini? Ternyata mereka mengambil cara sederhana yaitu membulatkan panjangnya satu tahun menjadi 365 hari, satu hari ditambahkan setiap empat tahun sekali untuk mengejar akumulasi ketertinggalan kalender selama empat tahun. Hasilnya adalah kalender yang kita pakai sekarang ini. Konsisten, karena pergantian hari, bulan dan tahun selalu jatuh pada jam yang sama.

Sementara itu penulis artikel berpikir sebaliknya. Penanggalan harus teliti sampai ke hitungan jam. Pergantian tahun jatuh pada pukul yang berbeda. Silahkan kita bayangkan kerepotan apa yang akan muncul jika pendekatan demikian diterapkan.

Si penulis pun tidak memperhitungkan konsep zona waktu, terlihat dari argumen bahwa ‘posisi matahari masing-masing kota tidak sama’. Mari kita berandai-andai jika penanggalan hijriah digunakan untuk urusan pemerintahan dan niaga. Pergantian tanggal terjadi tepat saat azan maghrib. Tetapi, apakah instansi pemerintah akan memberlakukan pergantian tanggal (dan jam) yang berbeda untuk tiap daerah berdasarkan posisi bujurnya? Kemungkinan besar tidak, karena itu akan menambah kerumitan pengaturan waktu. Dari sudut pandang praktisi IT aturan seperti itu bakal sangat memusingkan untuk diterapkan, misalnya dalam sistem pembukuan perbankan. Bahkan menggeser-geser waktu ‘maghrib’ sesuai waktu shalat sebenarnya untuk keperluan penanggalan pun tampaknya tidak mungkin. Keruwetan macam inilah yang menyebabkan orang sepakat menggunakan zona waktu dengan mengorbankan ketelitian perhitungan waktu sebenarnya.

Malam Tahun Baru

Manusia tanpa sadar menandai titik-titik momen tertentu dalam hidupnya. Ia mengukur pencapaian, menandai perubahan dan menambatkan renungannya pada titik-titik tersebut. Hal itu merupakan bagian tidak terpisahkan dari kesadaran kita sebagai makhluk berakal.

Lalu?

Ini adalah pembenaran saya untuk tetap merayakan tahun baru. Merayakan di sini berarti menjadikan pergantian tahun sebagai momen yang khusus. Malam ini, saya akan menghadiahi diri saya sendiri dengan bersenang-senang dan mengenang semua yang saya lewati sepanjang tahun ini. Jalan hidup memang terus berlanjut bagaikan sungai, bukan undak-undakan yang bisa dihitung jumlahnya. Tetapi tidak ada salahnya jika kita meletakkan batu-batu penunjuk di sisinya, untuk mengukur seberapa jauh kita telah melangkah. Perayaan tahun baru bisa menjadi ungkapan rasa syukur atas kesempatan hidup selama setahun terakhir, atas peluang-peluang dan pencapaian yang berhasil diperoleh. Ia merupakan saat-saat pelipur lara atas kegagalan-kegagalan dan kekurangan selama setahun itu, sekaligus pemberi harapan bahwa masih ada kesempatan tahun depan untuk terus terbang berkelana menggapai impian, mencari hal-hal baru dan bertemu dengan apa yang belum pernah kita temui sebelumnya. Tahun baru itu istimewa.

Jika dikatakan, ‘kenapa tidak bermuhasabah pada tahun baru hijriah?’. Kita kembali lagi ke persoalan kesadaran. Dengan tanggalan apa kita menentukan libur sekolah atau kerja? Dengan penanggalan apa kita merencanakan acara? Dengan penanggalan apa kita menandai surat kita? Penanggalan masehi selalu mengikuti kita kapanpun, dalam kesempatan apapun. Karena itu ia tertanam di kesadaran kita. Fase-fase hidup kita seperti liburan, kelulusan atau gajian ditentukan oleh penanggalan masehi, sementara itu fase-fase tersebut juga ikut mengukir ingatan kita dan membentuk pengalaman kita. Maka tidak anehlah jika pergantian tahun masehi menjadi satu titik istimewa dalam perjalanan hidup kita.

NB

Malam ini saya sendirian… tidak ada ajakan dari kawan….

Well… seperti malam-malam libur biasanya saya akan menghabiskan waktu di depan laptop lagi, mengerjakan apa saja yang bisa saya kerjakan di sana dan kadang berbincang dengan kenalan lewat internet. Setidaknya saya punya beberapa plugin LADSPA yang ingin saya cobakan untuk sebuah proyek mixing.

Advertisements
Tahun Baru Dari Perspektif Seorang Awam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s